You are here
Terbukti Bunuh Adik Ipar, Kompol Fahrizal Divonis Masuk RSJ Kota Medan 

Terbukti Bunuh Adik Ipar, Kompol Fahrizal Divonis Masuk RSJ

topmetro.news – Rumor miring bakal bebasnya terdakwa Kompol Fahrizal SIK, Kamis (7/2/2019) dari jerat pidana penjara terjawab sudah. Pembunuh adik ipar ini bebas dari hukuman karena dinilai mengalami gangguan kejiwaan.

Majelis hakim diketuai Deson Togatorop SH dalam putusannya di Ruang Cakra 6 PN Medan menyatakan, sependapat dengan tuntutan JPU dari Kejatisu, Randi Tambunan SH. Perbuatan terdakwa tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana.

Dari fakta persidangan, dakwaan kesatu, pidana Pasal 338 KUHP yakni dengan sengaja merampas nyawa orang lain diancam karena pembunuhan, menewaskan Jumingan tidak lain adalah adik ipar terdakwa, telah terbukti secara sah dan meyakinkan.

“Tapi perbuatan terdakwa tidak bisa dipidana. Karena bukan suatu unsur kesengajaan. Namun karena gangguan jiwa berat sebagaimana hasil diagnosis ahli kejiwaan yaitu skizofrenia paranoid yang tidak dapat membedakan mana yang baik, benar dan yang tidak benar. Mana yang fantasi dan mana yang fakta,” urai Deson.

Di bagian lain, majelis hakim juga memerintahkan JPU agar mengeluarkan terdakwa Fahrizal dari Rutan Tanjung Gusta Klas I Medan. Untuk selanjutnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). Pembiayaannya ditanggung oleh keluarga terdakwa.

“Menyatakan barang bukti berupa senjata api genggam berwarna silver gagang berwarna coklat. Enam butir selongsong berikut proyektil peluru. Masing-masing yaitu satu butir pecahan proyektil di tempat kejadian perkara, tiga butir pecahan proyektil di tubuh korban dan dua butir proyektil utuh di tubuh korban dan satu lembar surat izin membawa senjata api dirampas,” urai Deson.

Rawat Inap Atau Rawat Jalan?

Hanya saja pantauan wartawan, majelis hakim dalam putusannya tidak merinci apakah Fahrizal ketika peristiwa penembakan, Rabu malam (4/4/2018), menjabat Wakapolres Lombok Tengah itu, dirawat inap atau rawat jalan.

Sementara usai persidangan, Fahrizal yang dikawal seorang pria berpakaian dinas kepolisian dan tim kuasa hukumnya tidak bersedia memberikan komentar. Mereka tampak buru-buru meninggalkan Gedung PN Medan.

Di luar persidangan, penasihat hukum terdakwa Julisman SH menegaskan, pihaknya segera berkoordinasi dengan pihak kejaksaan tentang pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan agar Fahrizal menjalani perobatan medis di RSJ. Nantinya, terdakwa akan menjalani perawatan di RSJ Prof Dr M Ildrem di Jalan Tali Air Medan Tuntungan.

Menembak Kepala Korban

Sementara mengutip dakwaan JPU, terdakwa Fahruzal bersama istrinya memutuskan singgah ke rumah Sukartini, ibu terdakwa yang baru selesai dirawat dari rumah sakit. Bahkan foto terdakwa bersama ibunya sempat dikirim ke grup WA keluarga oleh saksi Maya Safira Harahap.

Sekira 10 menit kemudian, tiba-tiba terdakwa berdiri lalu mengambil senjata api miliknya dari kantong celana sebelah kanannya. Kemudian terdakwa berjalan tepatnya di depan saksi Sukartini lebih kurang satu meter. Terdakwa mengarahkan senjata api yang dipegangnya ke bagian muka/kepala Sukartini.

Lalu korban Jumingan (adik ipar terdakwa) mendatangi terdakwa dan mengatakan, “Jangan Bang, jangan Bang, itu mamak.” Namun saat itu terdakwa berpaling dan menodongkan senjata apinya ke arah kepala korban Jumingan. Sehingga korban Jumingan mundur ke belakang dan terduduk di kursi jepara di depan televisi sambil kedua tangannya memohon agar tidak ditembak.

Namun terdakwa tidak menghiraukannya dan menembakkan senjata api tersebut ke kepala/dahi korban Jumingan sebanyak dua kali dengan jarak satu meter. Lalu korban Jumingan terjatuh ke lantai. Terdakwa kembali menembakkan ke arah selangkangan kiri dan kanan korban Jumingan sebanyak dua kali. Lalu menembak kepala/ubun-ubun korban Jumingan sebanyak satu kali.

Melihat korban Jumingan ditembak terdakwa, saksi Heni Wulandari kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.

reporter: Robert Siregar

Loading...
402 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment