You are here
Stok Bensin AS Berkurang, Harga Minyak Naik Ekonomi & Bisnis Internasional 

Stok Bensin AS Berkurang, Harga Minyak Naik

topmetro.news – Harga minyak mentah berjangka naik lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (11/4/2019), setelah persediaan bensin AS turun. Kenaikan harga minyak mengesampingkan bertambahnya persediaan ke level tertinggi dalam 17 bulan, dan pengetatan lebih lanjut pasokan minyak Venezuela.

Patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik US$1,21. Atau 1,59 persen menjadi US$71,73 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah mencapai tingkat tertinggi lima bulan di US$71,78 per barel.

Sementara m​​inyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik US$0,63. Atau 0,98 persen, menjadi US$64,61 per barel di New York Mercantile Exchange. Bertahan tepat di bawah level terkuatnya sejak pertengahan November.

“Penarikan stok bensin yang besar lebih penting bagi pasar dari pada peningkatan stok minyak mentah. Karena saya pikir peningkatan (stok) minyak mentah dapat dengan mudah berbalik minggu depan,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

BACA | Pukul 10.50 WIB, IHSG Tergerus 40 Poin

Stok Minyak Mentah AS

Persediaan di AS pekan lalu naik ke level tertinggi sejak November 2017 karena impor meningkat. “Sementara persediaan bensin mencatat penurunan tertajam sejak September 2017,” kata Badan Informasi Energi AS (EIA).

Persediaan minyak mentah membengkak tujuh juta barel pekan lalu. Jauh melampaui perkiraan untuk kenaikan 2,3 juta barel. Stok bensin, turun 7,7 juta barel, lebih dari tiga kali lipat yang diperkirakan para analis untuk penurunan dua juta barel.

Sementara sanksi AS terhadap eksportir minyak Iran dan Venezuela, serta pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga mendorong kenaikan harga.

“Dengan risiko geopolitik terus berdampak pada produksi dari Venezuela dan Iran. Serta sekarang juga berpotensi Libya dan bahkan Aljazair. Pasar minyak mentah kemungkinan akan tetap didukung sampai harga mencapai tingkat yang memuaskan untuk OPEC dan Rusia,” kata analis komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen.

Sebuah laporan bulanan OPEC yang dirilis pada Rabu (10/4/2019) menunjukkan bahwa produksi minyak Venezuela bulan lalu merosot ke level terendah jangka panjang di bawah satu juta barel per hari. Hal ini karena sanksi-sanksi dan pemadaman AS.

sumber | beritasatu.com

86 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment