You are here
Din Syamsuddin Minta Ulama tak Ikut Panaskan Politik Politik 

Din Syamsuddin Minta Ulama tak Ikut Panaskan Politik

topmetro.news – Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin minta agar para ulama tidak ikut-ikutan menambah ketegangan politik. Dia juga minta agara para ulama jangan malah malah membuat umat bingung karena masalah perbedaan dukungan.

Hal ini disampaikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, menyikapi situasi yang panas karena adanya dukungan berbeda di antara ulama. Menurut Din Syamsuddin, kondisi seperti ini malah akan menyebabkan nestapa bagi Ukhuwah Islamiyah. Dan para ulama harus menyadari ini.

Sehingga, kata dia, para elit agama memang dituntut harus memiliki kearifan dan kebijaksanaan kalau terjun ke dunia politik. Artinya, para ulama, kata dia, harus lebih mengedepankan etika dan moral daripada nafsu politik.

Bahkan soal dukung-mendukung, kata Din Syamsuddin, sepertinya sudah harus diatur, agar para ulama tidak jalan masing-masing. Sehingga tidak lagi memunculkan ketegangan dan kebingungan di tengah umat.

“Ini yang membuat ketegangan. Ada 1.000 ulama mendukung capres dan cawapres kubu A. Lalu 1.000 ulama berkumpul mencalonkan capres-cawapres kubu B. Apa enggak tegang dan konflik ini? Yang bingung umatnya,” tutur Din.

BACA JUGA:

Kalangan Ulama Minta Politisasi Masjid Dihentikan

Ulama Jangan Ciptakan Pemblokan Politik

Memang, kata Din Syamsuddin, sah-sah saja jika ulama ikut berpolitik. Bahkan dia berpendapat, tokoh agama memang perlu ikut terjun ke dunia politik. Tujuannya adalah untuk ikut meluruskan kehidupan politik ke jalan yang benar.

Hanya saja, menurut dia, setiap ulama harus bisa menahan diri. Selain itu, dia melihat ulama saat ini harus mampu mengendalikan diri, supaya tak menimbulkan perpecahan di masyarakat.

“Tapi jangan kemudian menciptakan political blocking, pemblokan politik yang sangat mengedepankan ketegangan dan konflik,” kata Din.

Dikatakannya, ketika seorang ulama masuk ke dunia politik justeru untuk kepentingan kelompok tertentu, maka disitulah ketegangan dan konflik bisa terjadi. Karena pada akhirnya, para ulama itu masuk ke politik dengan perbedaan aspirasi dan kepentingan.

“Apalagi ketika melibatkan umat di lapisan bawah, umat ditarik ke kepentingan A, satu ditarik ke kepentingan B pasti tegang,” katanya. (TMN)

84 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment