Dihina di Medsos, Nggak Sengaja ‘Tergores’ Malah Dikenai Pasal 351

Sasa didampingi salah seorang PH, Selamet Mulyana SH, usai membuat laporan ke Polrestabes Medan | topmetro.news
Advertisement

topmetro.news – Malang betul nasib Sapitri alias Sasa (34), warga, Dusun VIII Suka Damai, Desa Kwala Air Hitam, Kecamatan Selesai, Langkat ini. Ia terpaksa berurusan dengan Unit PPA Polsek Sunggal.

Padahal, wanita cantik ini awalnya merupakan korban pembulian dan penghinaan di group medsos (Group WhatsApp) yang dikelola Rizky Rahmaningsih (pelapor), diduga warga Kecamatan Bukit Lawang, Langkat, yang kebetulan satu pekerjaan dengan pelapor.

Anehnya, kendati terlapor bukan merupakan anggota group WhatsApp yang dikelola pelapor, Rizky Rahmaningsih alias Kiki, tapi yang bersangkutan membuat kata-kata makian sekaligus mengupload foto terlapor di group WhatsApp yang dikelolanya.

Namun, ada beberapa teman terlapor di dalam group WhatsApp tersebut yang menyampaikan kepada terlapor jika dirinya dimaki dan fotonya diupaload oleh pelapor. Merasa dihina dan dilecehkan, terlapor mencoba menanyakan kepada pelapor, mengenai maksud dan tujuan kata-kata makian yang diposting di group WhatsApp pelapor. Kemudian dengan perasaan tidak senang, Sasa coba mencari-cari keberadaan korban dengan cara menghubungi nomor ponsel dan chat WA Kiki.

“Tapi ditelepon lewat WA dan dichat, Kiki gak mau angkat dan gak mau balas. Beberapa jam kemudian, Kiki membalas dan menyuruh saya datang ke kontrakannya,” ujar Sasa didampingi penasihat hukumnya, Harianto Ginting SH, Selamet Mulyana SH, dan Edi Perwira Ginting SH MH, di Poltabes Medan, Jumat (22/10/2021).

Sasa pun mendatangi Kiki di Kompleks Green Visella, No. 12 Jalan Perjuangan, Kelurahan Tanjung Rejo, Medan Sunggal, Selasa (3/8/2021), sekitar pukul 20.30 WIB.

Sesampainya di kontrakan Kiki, ternyaya situasinya sudah ramai oleh teman-teman Kiki. “Ada apa? Apa maksudnya kau maki-maki aku di group WA,” ujar Sasa kepada Kiki.

Namun, bukannya minta maaf, Kiki malah menjawab sesuka hatinya. “Kenapa rupanya. Group-group aku. Suka-suka akulah,” ujar Kiki ditirukan Sasa.

Anehnya, pada saat keributan di kos-kosan Kiki, beberapa teman pelapor merekam momen keributan itu. Sembari berteriak agar jangan ada keributan di kos-kosan tersebut.

Kemudian, Sasa mengajak pelapor untuk membicarakan apa maksud dan tujuan pelapor mempermalukan dirinya dengan cara memaki-maki dan mengupload fotonya di group WA yang dikelola pelapor. Namun karena Kiki tidak ingin menjelaskan maksud dan tujuannya menghina Sasa, tambah lagi penghuni kos seolah berpihak kepada pelapor, kemudian Sasa mencoba menarik tangan Kiki untuk membicarakannya di luar.

Pada saat itu, Kiki berupaya menolak ajakan itu sembari menarik tangannya dari genggaman tangan Sasa. Karena Kiki menolak menjelaskan dan menolak ajakan Sasa, kemudian terlapor meninggalkan kontrakan Kiki.

Namun, hampir tiga bulan pasca-Sasa mendatangi kontrakan pelaku penghinaan dan makian tersebut, pada Senin (18/10/2021), Sasa dapat panggilan dari penyidik Unit PPA Polsek Sunggal, Briptu Dairotu Fitria. Surat panggilan No. SPGL/344/X/2021/Reskrim, tanpa tertera tanggal pemanggilan sebagaimana lazimnya surat panggilan, untuk menghadap penyidik.

Ironisnya, ternyata sebelum dipanggil penyidik, Sasa sudah ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan ringan. Anehnya di tangan kanan Kiki terdapat bekas goresan. Diduga tanpa sengaja pada saat Sasa meraih tangan Kiki, ada bekas sedikit luka goresan.

Anehnya lagi, begitu Sasa mendatangi penyidik, kemudian Sasa langsung ditetapkan menjadi tersangka. Sebab begitu Sasa menghadap penyidik langsung dilakukan penahanan. Penyidik mengenakan Sasa dikenakan Pasal 352 Sub Pasal 352 KUHP.

Ternyata, Sasa dijadikan tersangka oleh penyidik Unit PPA Polsek Sunggal sejak masuknya laporan berdasarkan Laporan Polisi No. LP/B/1513/VIII/2021/SPKT POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMUT tertanggal 4 Agustus 2021, yang dilaporkan Kiki.

Setelah penahanan Sasa yang diduga dilakukan tidak sesuai dengan prosedur tata cara awal penetapannya sebagai terduga tersangka penganiayaan ringan, keluarga Sasa menghubungi keluarganya, Harianto Ginting SH, yang kebetulan berprofesi sebagai advokat.

Kepada topmetro.news, Harianto Ginting SH, yang akrab dipanggil Bang Ginting ini mengatakan bagwa kliennya Safitri alias Sasa merasa tidak memiliki masalah dengan sdri Kiki (pelapor).

“Namun sekira Bulan Agustus 2021, saat nenek dari klien kami meninggal dunia. Klien kami sedang cuti tiga hari. Dan kerena sedang cuti, klien kami memposting foto kegiatan di media sosial miliknya. Dan foto tersebut discreenshot dan diduga dikirim oleh Saudari Kiki ke dalam Group WA miliknya dengan menulis kata kata ‘jalan2 Lo si kimak ini’,” ujarnya.

Akibat perbuatan yang diduga dilakukan Kiki tersebut, ujar Bang Ginting, kliennya sangat keberatan. “Klien kami keberatan, karena merasa tidak memiliki permasalahan dengan Saudara Kiki. Dan terlebih kalimat yang disampaikan dalam chat tersebut, seolah Kiki memiliki rasa kebencian yang sangat besar terhadap klien kami. Dan klien kami sempat juga diteror dengan menyamar sebagai orang lain seolah-olah tamu dan menyampaikan komplain dan mengancam akan melaporkan klien kami pada atasannya. Hal ini kan sudah membuat klien kami dirugikan, nama baiknya diserang dengan teror dan penghinaan yang diduga dilakukan Saudara Kiki ini. Karena itulah kita ambil langkah hukum secara pidana dengan melaporkan peristiwa tersebut ke Poltabes Medan. Dan kita juga sedang mempersiapkan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) atas kerugian materil dan immateril yang alami klien kami,” terang Bang Ginting.

Sekedar diketahui, Risky Rahmaningsi saat ini, juga sudah dilaporkan ke Polrestabes Medan, dengan No. STTLP/2124/YAN.2.5/K/X/2021/SPKT-RESTABES MEDAN, tertanggal 22 Oktober 2021.

reporter | Rudy Hartono

 23 total views,  1 views today

Advertisement

Related posts

Leave a Comment