Bantu Stabilitas Rupiah, Indonesia Perlu Wajibkan Pertambangan Jual 50% Produksi Emas ke BI

topmetro.news, Medan – Sudah saatnya Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan ‘Domestik Market Obligation’ (DMO) atas produksi emas dari perusahaan pertambangan di Indonesia.

Artinya, semua perusahaan pertambangan harus menjual 50% dari produksi emasnya kepada Bank Indonesia.

Demikian usul pengamat sosial ekonomi, Raya Timbul Manurung, kepada media ini, Jumat pagi (29/5/2026). “Ini adalah usulan saya kepada Pemerintah Indonesia, dalam rangka membantu stabilitas mata uang Rupiah dan meningkatkan peredaran uang tanpa meningkatkan inflasi,” katanya.

Ia menyebut, bahwa emas yang dijual harus bentuk kadar 99,99% atau 24 karat. “Dan dalam bentuk batangan dan ukuran standar LBMA yaitu 1.000 troy ounce, atau juga per 1 kg, 5 kg dan 10 kg,” jelas Ratiman, sapaan akrabnya.

Emas yang akan dijual oleh perusahaan pertambangan, lanjutnya, harus dimurnikan lebih dulu oleh perusahaan pemurnian logam mulia milik BUMN Antam.

Dengan kebijakan ini, katanya, maka Bank Indonesia akan membeli emas dengan harga pasar. Secara tidak langsung Bank Indonesia akan meningkatkan jumlah likuiditas dan peredaran uang.

Selain itu, lanjutnya, Bank Indonesia akan meningkatkan cadangan emasnya. “Peningkatan jumlah cadangan emas Bank Indonesia akan memperkuat stabilitas nilai Rupiah dan meningkatkan kemampuan Bank Indonesia untuk mendapatkan valuta asing termasuk Dollar Amerika Serikat,” terang Ratiman.

Saat ini, katanya, cadangan emas resmi yang dimiliki oleh Bank Indonesia berada di kisaran 80 ton. Sementara total produksi emas Indonesia dari pertambangan saat ini tercatat mencapai sekitar 90 ton hingga 118 ton per tahunnya.

Dominasi Ekonomi

Aktivis ini pun memaparkan 10 negara dengan cadangan emas bank sentral terbesar di dunia. Di mana negara-negara itu ternyata mendominasi kekuatan ekonomi utama di Amerika, Eropa, dan Asia.

Berdasarkan data dari World Gold Council, berikut adalah urutannya:
– Amerika Serikat: 8.133,46 ton
– Jerman: 3.351,53 ton
– Italia: 2.451,84 ton
– Prancis: 2.436,97 ton
– Rusia: 2.332,74 ton
– China: 2.279,64 ton
– Swiss: 1.039,93 ton
– India: 876,13 ton
– Jepang: 845,97 ton
– Belanda: 612,45 ton

“Negara-negara tersebut secara konsisten mempertahankan logam mulia ini sebagai pelindung nilai terhadap volatilitas mata uang dan ketidakpastian ekonomi global,” kata Ratiman.

Ratiman lalu menyinggung kebijakan Singapura dengan cadangan emas sekira 240,8 ton. “Otoritas Moneter Singapura (MAS) secara aktif telah menumpuk dan menambah cadangan emasnya. Menempatkannya di peringkat ke-22 global dalam daftar kepemilikan emas bank sentral,” ujar alumni UGM ini.

reporter | Raja P Simbolon

Related posts

Leave a Comment