You are here
Bank Dunia Cairkan Pinjaman Indonesia 300 Juta Dolar AS, Ini Respons Politisi Gerindra Ekonomi & Bisnis 

Bank Dunia Cairkan Pinjaman Indonesia 300 Juta Dolar AS, Ini Respons Politisi Gerindra

Topmetro.News– Akhirnya Bank Dunia menyetujui pinjaman 300 juta Dolar AS untuk Indonesia. Pinjaman Indonesia ini ditujukan meningkatkan prasarana dan pelayanan dasar yang relevan dengan pariwisata, memperkuat hubungan ekonomi lokal dengan kepariwisataan dan menarik investasi swasta ke Indonesia. Jadi tak lama lagi, Bank Dunia segera mencairkan pinjaman Indonesia itu.

Namun Heri Gunawan, Anggota Komisi XI DPR RI mewanti-wanti pemerintah untuk berlaku hati-hati dalam mengambil opsi pinjaman luar ngeri. Pasalnya, keuangan negara ini masih dibayang-bayangi beban pembayaran jatuh tempo utang yang terbilang besar.

“Tahun 2018 ini saja sebesar Rp 390 triliun, di 2019 mencapai sekitar Rp 420 triliun. Pada kondisi seperti ini, tentu membuka opsi pinjaman harus ekstra hati-hati,” kata Heri Gunawan, Senin (4/6/2018).

Karenanya, lanjut politisi Partai Gerindra itu, pemerintah harus mengelola utang luar ngeri dengan baik, sehingga nantinya utang yang didapat bisa lebih produktif. Konkretnya yakni perekonomian bangsa lebih menggeliat karena adanya pembukaan lapangan kerja baru.

Cairkan Pinjaman Indonesia, Prioritaskan 3 Sektor

Heri Gunawan menilai, ada tiga sektor yang berpotensi besar sehingga mesti didorong perkembangannya lewat investasi, yaitu pertanian, kesehatan dan pariwisata.

Lebih lanjut Heri Gunawan, sejak tahun 2016 lalu, sektor pariwisata telah menjadi sumber pemasukan devisa terbesar kedua setelah industri kelapa sawit (CPO). Pada tahun 2019 bahkan diperkirakannya pemasukan devisa bakalan lebih besar dari industri CPO.

Hal itu diyakininya bisa dicapai karena pemerintah dalam beberapa waktu terakhir ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan 10 destinasi wisata baru ke masyarakat.

“Cuma memang pengembangannya butuh investasi yang besar sehingga daya saingnya bisa lebih tinggi lagi, dan tidak hanya terbatas di destinasi yang terbatas, tapi lebih luas hingga ke Indonesia bagian timur,” tekan Heri Gunawan lagi.

“Kita harus akui, sektor pariwisata ini kalau meminjam ke perbankan, ekuitasnya mesti tinggi karena cashflow untuk membayar bunga itu terbatas sekali dan dalam jangka pendek. Biasanya ekuitas yang diminta di atas 40 persen karena memang kemampuan membayar dari pembayaran khususnya kamar hotel, akan dibandingkan dengan biaya konstruksi,” tambahnya.

Dijelaskan Heri Gunawan, pada pelaksanaannya, sektor pariwisata sangat terkait dengan banyak sektor lainnya. Sebab itu koordinasi menjadi langkah yang sangat penting untuk dijalankan sebagai sebuah sistem. Jika koordinasi tak dilakukan dengan baik, maka birokrasi rumit yang menjadi salah satu kelemahan dari pariwisata Indonesia bakalan sulit dihilangkan.

Minim Perencanaan dan Implementasi

Adapun kelemahan lain dari sektor pariwisata Indonesia, kata dia, perencanaan dan implementasinya di lapangan yang minim. “Akibatnya kegiatan pariwisata yang ada sekarang relatif bersifat apa adanya,” sesalnya.

Nah, kalaupun opsi pinjaman itu tak terhindarkan lagi, maka Heri Gunawan mendesak pemerintah untuk memastikan master plan atau road map pengelolaan utang yang bagus, termasuk di dalamnya terkait reformasi birokrasi.(tmn)

sumber: pojoksatu

367 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment