You are here
Kekecewaan Southgate dan Kontroversi Jepang Olahraga 

Kekecewaan Southgate dan Kontroversi Jepang

topmetro.news – Pelatih Inggris Gareth Southgate mengungkapkan kekecewaan setelah timnya dikalahkan Belgia 0-1 di Stadion Kalingrad, Jumat (29/6/2018) dini hari WIB. Gol kemenangan Belgia dicetak gelandang sayap Real Sociedad Adnan Januzaj untuk memastikan mereka sebagai pemuncak klasmsen Grup G dan akan menghadapi Jepang di babak 16 besar.

Sementara Three Lions mengakhiri babak grup sebagai runner up grup dan akan menghadapi Kolombia.

“Saya pikir ini adalah pertandingan yang cukup bagus. Mereka memiliki penguasaan bola yang lebih baik dan peluang terbaik di babak pertama,” aku Gareth Southgate usai pertandingan.

“Kami memiliki beberapa peluang bagus di babak kedua. Ini adalah ujian yang bagus bagi kami. Itu tidak terjadi untuk Marcus Rashford malam ini, tetapi kami tidak menderita untuk itu. Kami ingin memenangkan pertandingan sepakbola jadi kami tidak senang dengan kekalahan ini,” tambah Gareth Southgate.

Keberuntungan dan Fair Play

Sementara itu, lolosnya Jepang ke babak 16 besar Piala Dunia 2018 menjadi perdebatan. Pasalnya, pasukan Samurai Biru memastikan lolos dari fase grup berkat kartu kuning.

Ya, hasil imbang yang diharapkan minimal bisa mereka raih ketika melawan Polandia di laga terakhir grup, malah berakhir dengan kekalahan 0-1. Imbasnya, mereka harus bersaing dengan Senegal untuk bisa lolos.

Beruntungnya, di laga terpisah Senegal juga kalah dengan skor yang sama dengan Kolombia. Setelah dihitung-hitung, perolehan poin Jepang dengan Senegal sama, 4 poin. Lalu wakil dari Grup H yang mendampingi juara grup Kolombia harus ditentukan lewat aturan Fair Play.

Ini setelah poin keduanya sama, 4. Selain itu selisih gol keduanya juga sama-sama kemasukan dan memasukkan empat. Terakhir, rekor pertemuan mereka juga imbang 2-2.

Pertama Dalam Piala Dunia

Ketika tiga syarat itu masih tetap sama, maka aturan perhitungan poin fair play dalam regulasi FIFA berlaku. Jepang berhak melaju sekaligus menjadi tim pertama dalam sejarah putaran final Piala Dunia yang melangkah ke fase gugur berkat keunggulan poin fair play.

Jepang mengoleksi empat kartu kuning dari tiga laga, sementara Senegal enam. Dalam tiga laga fase grup yang hanya menghasilkan 28 pelanggaran, jumlah ini juga merupakan yang paling sedikit di antara kontestan lainnya. Sedangkan Senegal cukup banyak dengan 44 pelanggaran.

Meski demikian, lolosnya Jepang tidak semata keberuntungan. Ini setidaknya sudah dibuktikan pasukan Akira Nishino sejak awal kompetisi dengan secara mengejutkan mengalahkan Kolombia.

Kemenangan 2-1 atas Kolombia, 19 Juni lalu menjadi Jepang tim Asia pertama yang berhasil mengalahkan wakil dari Amerika Selatan. Sensasi Jepang juga berlanjut di laga kedua menghadapi Senegal. Dua kali tertinggal, Jepang berhasil menyamakan skor.

Faktor Kelelahan Pemain

Empat poin dari dua laga memang sedikit membuat Jepang tidak tertekan. Mereka sebenarnya hanya butuh hasil imbang melawan Polandia yang sudah tersingkir. Sial, di laga krusial ini banyak pemain utama kelelahan.

Hal ini memaksa Nishino melakkan enam perubahan pada tim intinya. Empat pencetak gol dalam dua laga sebelumnya di bangku cadangkan. Meski banyak menurunkan pemain pelapis, banyak peluang didapat Jepang di babak pertama. Sampai akhirnya Jepang menyerah setelah Polandia mengemas gol semata wayang yang dicetak Jan Bednarek.

Perjuangan Jepang di 16 besar akan menemui ujian berat lantaran harus menghadapi tim bertabur bintang Belgia. Mampukah Jepang melanjutkan sensasinya? (TM-RED)

sumber: beritasatu.com

255 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment