You are here
Rupiah Terus Melemah, Diprediksi Tembus Rp 15.000 per Dolar AS ? Ekonomi & Bisnis 

Rupiah Terus Melemah, Diprediksi Tembus Rp 15.000 per Dolar AS ?

Topmetro.News – Rupiah terus melemah terhadap sejumlah mata uang asing lainnya. Tak sedikit pihak memperkirakan akibat Rupiah terus melemah mata uang Garuda ini diperkirakan akan menembus batas psikologis pada kisaran Rp15.100 per Dolar AS. Akibatnya masyarakat akan merasakan dampak itu sercara nyata.

Dampak Rupiah terus melemah, menurut sejumlah pengamat mulai dari ancaman naiknya harga pangan, bahan bakar minyak (BBM), listrik dan barang kebutuhan masyarakat bakal diperkirakan ikut-ikutan naik. “Harga pangan pasti naik jika Rupiah terus melemah,” kata Salamuddin Daeng, pengamat ekonomi, Selasa (4/9/2018).

Rupiah Terus Melemah, Bahan Baku Kebutuhan Pangan Masih Impor

Sebab, kata Salamuddin Daeng, Indonesia sekarang ini sangat tergantung pada bahan impor pangan, seperti kedele, jagung, gula, gandum, beras dan sebagainya . Sehingga dengan naiknya bahan pangan ini akan berdampak terhadap bahan kebutuhan sehari-hari.

Tak hanya harga pangan, dia mengungkap melemahnya nilai tukar Rupiah ini juga sangat berdampak terhadap sektor energi, seperti BBM dan listrik. Keuangan Pertamina dan PLN bakal semakin mahal tarifnya, lantaran biaya produksi mereka naik.

Rupiah terus melemah, dampak lainnya yakni harga BBM bakal ‘mencekik leher’ dan bakal mengimbas ke sektor lain seperti transportasi. Pastinya biaya transportasi pasti naik. “Semuanya barang dan jasa akan naik!”

Pemerintah Minta Masyarakat Kurangi Impor

Menanggapi melemahnya nilai tukar Rupiah ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta masyarakat membantu pemerintah mengurangi impor. Ini penting untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

“Tak usah Ferarri, Lamborghini masuk dalam negeri, tak usah mobil besar dan mewah, tak usah parfum-parfum mahal. Tas-tas Hermes. Walaupun tidak banyak, jangan dalam situasi sulit ini, masyarakat luxuries gitu,” pinta JK.

Namun Darmin Nasution Menko Perekonomian mengaku sempat heran dengan sejumlah pihak yang membandingkan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS‎, dengan masa krisis ekonomi tahun 1998.

“Jangan dibandingkan Rp14 ribu sekarang dengan 20 tahun lalu. Membandingkannya yang fair (adil),” sindir Darmindi Jakarta Jakarta.

Dia menegaskan melemahnya Rupiah 20 tahun lalu kondisinya sangat drastis. Waktu itu, kata Darmin Nasution. Rupiah berada di posisi Rp 2.800 terus menjadi Rp14.000/Dolar AS‎.(*)

123 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment