You are here
Inikah Penyebab Air Bersih Belum Terpenuhi di Kota Tarutung? Ekonomi & Bisnis 

Inikah Penyebab Air Bersih Belum Terpenuhi di Kota Tarutung?

topmetro.news – Tarutung, sebagai ibukota kabupaten Tapanuli Utara mungkin salah satu kota yang minim dalam konsep memanjakan warga. Kota sedang atau masih terbilang kecil ini, sampai sekarang belum keluar dari persoalan klasik, yakni pemenuhan kebutuhan air bersih (air minum).

Warga banyak menyebutkan, ilmu sederhananya, kota yang berada di Lembah Silindung itu dan dikelilingi hutan dan banyak sumber air, tidaklah begitu sulit untuk mengalirkan air ke rumah penduduk.

Maka, hingga kini PDAM Mual Natio selaku BUMD, dicap warga, tidak mampu menyelesaikan persoalan ini.

“Kami, selain selain sering mati air, saat sudah hidup pun harus memasang mesin pompa agar airnya bisa jalan (naik),” ucap Ibu Boru Sebayang, yang tinggal di Perumahan Ganda Uli Hutabarat, Tarutung, kemarin.

Lain lagu dengan Nurmala Tobing, yang tinggal di Jalan Sisingamangaraja Tarutung. Dia mengaku sampai saat ini masih mengkonsumsi air dari hasil pompaan air tanah.

“Sudahlah. Ini sudah lama berlangsung dan sepertinya PDAM tidak mampu menyediakan kebutuhan air bersih di kota ini,” ujarnya pesimis.

Penjelasan PDAM Mual Natio

Terpisah, Kepala PDAM Mual Natio Lamtagon Manalu menjelaskan, debit dari sejumlah sumber air yang dikelola pihaknya hanya dapat melayani 6.000 pelanggan. Masih sangat kurang dengan jumlah pelanggan sebanyak 8.000 di Kota Tarutung sekitarnya.

“Kekurangan debit air ini memaksa kami harus melakukan pemadaman bergilir. Dan akan menyasar paling sedikit 2.000 pelanggan, sesuai kekurangan air dibanding jumlah pelanggan,” terang Lamtagon, saat dikonfirmasi topmetronews.com, Kamis (10/10/2019), di Tarutung.

Tetapi lanjut Lamtagon, menstop dan mengalirkan kembali air ke saluran pipa rumah pelanggan, bukan seperti memadamkan dan menghidupkan arus listrik. “Kalau air, tentu membutuhkan waktu dalam proses penyaluran dan penyetopan. Jadi bukan berarti saat dibuka kembali, langsung hidup. Tentu membutuhkan waktu, dimana di ruang pipa sudah sempat masuk angin,” tandasnya.

Masalah lain, di sejumlah titik pipa mengalami kebocoran akibat termakan usia. Terutama yang berada di lokasi jalan-jalan arteri.

Ditambahkan juga, kelangkaan air ini juga dipicu tingginya tingkat pencurian. “Kemarin saja, tim kita berhasil menertibkan 1.500 pelanggan ilegal menjadi pelanggan legal,” ungkapnya.

Upaya ke Depan

Lantas apa upaya yang akan dilakukan? Lamtagon mengatakan, saat ini telah disusun perencanaan penambahan debit air dan pembangunan WTP di Aek Butar di Kecamatan Sipoholon.

“Tanpa penambahan debit air, Tarutung akan tetap krisis air,” tandasnya.

Masalah air sering keruh ? Ia menjawab, PDAM Mual Natio belum memiliki media agar air benar-benar melalui proses penyaringan. Media-nya berupa ‘water treatment plant’ (WTP), yang berfungsi menyaring (filtrasi), sebelum disalurkan.

Disebutkan, pihaknya sudah mengusulkan pembangunan WTP ke pusat dan supaya ditampung di ABPN Tahun 2020. “Satu unit bangunan WTP berskala besar paling minim membutuhkan dana 25 miliar rupiah,” sebut Lamtagon.

Pihaknya pun berharap agar Kementerian PU melalui Dirjen Cipta Karya segera merealisasi usulan Pemkab Taput itu.

“Informasinya, sedang disusun Detail Eenginering Develovment ( DED). Maka paling lambat 2021 pembangunan fisik sudah berlangsung di sumber Aek Butar (Hulu Sungai Sigeaon),” katanya.

Debit Kecil

Ia juga menjelaskan, sebenarnya banyak sumber air, tetapi debitnya relatif kecil. “Padahal kita harus mengeluarkan biaya besar untuk mengoperasikannya,” kata dia.

Sejumlah sumber air yang saat ini dikelola PDAM Mual Natio dengan debit kecil antara lain Sioma, Sitakka Aek Horsik, Ugan, Bintang Pinur yang berada di Jalan Sibolga. Lalu Simarsasar di Sipoholon, Aek Goti di Hutabarat, Tampang di Perbatasan Sitompul-Pansurnapitu, Siatas Barita.

“Maka untuk membangun WTP berikut melahirkan sumber air baru kita prioritaskan harus memiliki 150 liter per detik. Di level 150 liter, kita yakini mencukupi untuk 25 tahun ke depan. Sekarang akumulasi dari semua sumber air, masih 60 liter per detik,” sebutnya.

“Ke depan, PDAM Mual Natio merencanakan membangun reservoar di sebanyak dua unit di lokasi Jalan Sibolga dan Tangsi Tarutung,” pungkasnya.

reporter | Jan Piter Simorangkir

220 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment