You are here
Bos Telegram Soal WhatsApp: Berbahaya dan Delete Saja! Tekno 

Bos Telegram Soal WhatsApp: Berbahaya dan Delete Saja!

topmetro.news – Kasus diretasnya akun WhatsApp pribadi milik orang terkaya dunia sekaligus pemilik Amazon, Jeff Bezos membuat pendiri Telegram angkat suara. Dia bahkan menuliskan komentarnya mengenai pesaingnya ini dalam blog miliknya.

Dalam tulisannya yang diberi judul ‘Kenapa Menggunakan WhatsApp Berbahaya’ atau ‘Why Using WhatsApp Is Dangerous’, Pavel Durov mengemukakan, bahwa aplikasi chatting milik Facebook itu memiliki pintu belakang (backdoors) yang memungkinkan hackers untuk mengakses ponsel siapa pun yang menggunakan WhatsApp.

Dia mencontohkan, adanya backdoors ini jugalah membuat beredar obrolan dan foto-foto pribadi Jeff Bezos di Whatsapp. Selain kasus Jeff Bezos, PBB juga telah merekomendasikan para pejabatnya untuk tak lagi berkomunikasi menggunakan aplikasi ini dan menghapusnya. Sejalan dengan itu, bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah meminta orang terdekatnya untuk mengganti ponselnya.

“Mengingat gentingnya situasi, orang akan mengharapkan Facebook/WhatsApp untuk meminta maaf. Dan berjanji untuk tidak menanamkan backdoors di aplikasi mereka di masa depan. Tetapi sebaliknya, mereka mengumumkan bahwa Apple, bukan WhatsApp, yang harus disalahkan. Wakil Presiden Facebook mengklaim bahwa iOS, bukan WhatsApp, telah diretas,” tulis Pavel.

Kenapa Berbahaya?

Dia mengemukakan beberapa alasan kenapa menyebut WhatsApp sebagai aplikasi berbahaya.

Pertama, adanya backup. Pengguna tidak ingin kehilangan obrolan lamanya saat mengganti ponsel. Jadi dilakukan backup percakapan di layanan seperti iCloud, seringkali backup ini tidak dienkripsi.

Kedua, backdoors. Penegak hukum tidak terlalu senang dengan enkripsi. Jadi mereka memaksa pengembang aplikasi untuk diam-diam menanam kerentanan di aplikasi. Backdoors biasanya disamarkan sebagai kelemahan keamanan ‘tidak disengaja’.

“Saya tahu itu karena kami telah didekati oleh beberapa dari mereka dan saya menolak untuk bekerja sama. Akibatnya, Telegram dilarang di beberapa negara di mana WhatsApp tidak memiliki masalah dengan pihak berwenang. Paling mencurigakan di Rusia dan Iran,” terangnya.

Ketiga, ada kelemahan dalam implementasi enkripsi. Pavel Durov mempertanyakan enkripsi yang diterapkan oleh WhatsApp. Alasannya kode sumbernya sendiri disembunyikan dan biner aplikasi dikaburkan, membuat enkripsi sulit dianalisis.

BACA JUGA | WhatsApp Dark Mode Sudah Bisa Dicoba, ini Caranya!

Usulan Delete WhatsApp

Bukan hanya kali ini saja Pavel Durov mengkritik WhatsApp. Pada November 2019, Pavel Durov juga menyoroti masalah kerentanan di WhatsApp gara-gara penemuan spyware milik perusahaan teknologi Israel, NSO Group yang membobol ponsel pengguna lewat file video. Mirip seperti yang dialami CEO Amazon Jeff Bezos.

Menurut Pavel Durov mengungkapkan celah keamanan yang terdapat di WhatsApp adalah bukti lebih lanjut bahwa agen spionase biasa menggunakan WhatsApp sebagai alat pengawasan.

Ia menggambarkan WhatsApp semacam ‘kuda troya’ yang dimanfaatkan untuk memata-matai foto dan user penggunannya. Dia mengklaim aplikasi chatting milik Facebook ini tidak pernah benar-benar aman dan menempatkan data pribadi pengguna dalam bahaya sebagai objek peretas dan badan intelijen pemerintah.

“Facebook telah menjadi bagian dari program pengintaian jauh sebelum mereka mengakuisisi WhatsApp. Adalah naif untuk berpikir perusahaan akan mengubah kebijakannya setelah akuisisi,” ujar Pavel Durov, seperti dikutip CNBC Indonesia dari Independent, Jumat (22/11/2019) lalu.

Bos Telegram ini mengambil contoh pernyataan dari pendiri WhatsApp, Brian Acton yang menyesal menjual aplikasi ini ke Facebook. Brian pernah mengatakan, “Saya menjual privasi pengguna untuk keuntungan yang lebih besar.”

Pavel Durov menambahkan kurangnya bukti akan adanya eksploitasi masif di WhatsApp telah membuat Facebook selama ini nyaman. “Yakinlah, kerentanan keamanan sebesar ini pasti telah dieksploitasi,” jelasnya.

Pendiri Telegram ini menambahkan, kekonsistenan kerentanan keamanan yang ditemukan dalam WhatsApp menunjukkan keterlibatan Facebook dengan pemerintah dan agen intelijen.

“Kecuali jika Anda tidak masalah foto dan chatting menjadi publik suatu hari nanti, Anda harus delete WhatsApp dari ponsel,” jelas Pavel Durov.

sumber | CNBC Indonesia

Berita Lainnya

Leave a Comment