#

Apa yang Harus Dilakukan untuk Pindah dari 4G ke 5G?

teknologi jaringan 5G
Advertisement

topmetro.news – Saat ini teknologi jaringan 5G semakin mendunia. terakhir, PT Telkomsel juga sudah meluncurkan jaringan 5G belum lama ini di kawasan Jakarta.

Dan sebagai penyampaian Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ridwan Effendi, bahwa penerapan 5G di Indonesia sudah sangat perlu.

Penggunaan yang semakin banyak, membuat teknologi saat ini, yaitu 4G, sudah tak mampu lagi menampungnya. Sehingga berdampak pada kecepatan internet dan penggunaan latensi juga sudah tak lagi maksimal.

“Kalau menurut saya, kita udah waktunya ya pindah atau ganti teknologi ke 5G. Kalau melihat gejalanya, 4G sudah gak mampu lagi di beberapa tempat. Speednya per kapita udah mentok. Menambah BTS pun sudah rapat. Makanya sudah saatnya kita ganti ke teknologi yang lebih efisien lagi dan memberikan troughput lebih besar yaitu 5G,” kata Ridwan.

Kondisi pandemi juga ikut berperan pada padatnya jaringan internet saat ini. Aktifitas kerja dan sekolah yang sudah dari rumah, membuat operator seluler harus mengantisipasinya. Tentu saja berdampak pada kapasitas jaringan 4G yang akhirnya mentok.

“Di sisi lain juga, meski daerah-daerah bisnis tak seramai dulu, namun demand masih tetap tinggi. Saat ini kan sudah ada beberapa perusahaan yang sebagian karyawannya bekerja dari kantor,” ungkap dia.

BACA JUGA | Ini Daftar HP 5G yang Bisa Memanfaatkan Layanan Telkomsel 5G

Kecepatan 5G

Meski begitu, yang perlu menjadi catatan dalam komersialisasi 5G adalah hasil akhir yakni kecepatan sesungguhnya 5G. Dalam teorinya, 5G harus mampu menghadirkan peak data rate hingga 20 Gbps. Atau sekitar 20 kali lebih tinggi dari peak data rate 4G. Kemudian, 5G pun memiliki latensi yang begitu rendah, yaitu 1ms, atau sekitar 10 kali lebih rendah dari 4G.

“Jangan sampai 5G rasa 4G. Maka itu, butuh jaringan backbone yang baik harus dari fiber optic, bukan dari microwave. Jadi fiberisasi harus berlaku optimal baik di kota-kota maupun didaerah-daerah,” terang dia.

Sementara itu, lain hal dengan pendapat Munir Syahda Prabowo. Pengamat telekomunikasi ini menilai bahwa penerapan 5G pertama kali lebih perlu untuk industrial. Bukan pengguna masyarakat umum. Sebab, dengan adanya 5G akan membuka kesempatan lebih luas untuk industrial melakukan efisiensi waktu lantaran otomasi.

“Kalau langsung ke end user, kita perlu studi yang lebih dalam,” ungkap Munir.

Menurut Munir, terdapat tiga hal yang perlu jadi perhatian jika ingin menerapkan teknologi generasi kelima ini ke masyarakat umum. Pertama adalah kesiapan 5G yang sifatnya massif. Massif maksudnya adalah, boleh berlaku oleh satu atau seluruh operator seluler tetapi tercover di semua wilayah Indonesia.

“Kalau ngomong ke user, mestinya harus lebih luas ke masyarakat ya. Tidak terbatas,” jelas dia.

Kedua adalah edukasi 5G ke masyarakat. Hal ini akan berhubungan dengan kuota pelanggan.

“Waktu 3G ke 4G, orang masih mikir 4G itu boros. Cepat habis. Apalagi masuk zona 5G yang itungannya Gbps. Ini kita bicara untuk masyarakat umum ya. Bukan masyarakat khusus yang punya duit lebih. Apakah masyarakat umum sudah bisa menerima?” katanya.

Kebutuhan Masyarakat

Kemudian yang ketiga, lanjut Munir, adalah tingkat kebutuhan data masyarakat. Sejauh mana masyarakat umum membutuhkan teknologi jaringan 5G.

“Masyarakat saat ini hanya tahu tentang teknologi 5G sudah ada, tetapi Indonesia belum ada. Sementara, masyarakat juga belum tahu persis penggunaan 5G. Masyarakat itu sederhana kok. Mereka sebetulnya nggak mau tahu apa 3G, 4G, 5G. Yang jelas, kalau pakai internet itu cepat dan murah,” terang Munir.

Meski begitu, Munir mengatakan bahwa ekosistem 5G pada dasarnya sudah siap, baik device maupun aplikasinya. Saat ini sudah banyak smartphone-smartphone yang mengumumkan perangkatnya support dengan 5G. Begitu juga dengan aplikasi seperti game yang salah satunya butuh kecepatan internet yang tinggi.

“Hanya saja, harga smartphone 5G masih tinggi. Tentu, hanya bisa terjangkau oleh kalangan khusus,” jelas dia.

sumber | merdeka.com

Advertisement

Related posts

Leave a Comment