Dorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melalui Edukasi dan Pendampingan Ekspor

Berdasarkan statistik BPS, di tengah risiko guncangan perekonomian global, ekonomi Indonesia pada triwulan III-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,72 persen.
Advertisement

topmetro.news – Berdasarkan statistik BPS, di tengah risiko guncangan perekonomian global, ekonomi Indonesia pada triwulan III-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,72 persen.

Perkembangan tersebut memperlihatkan momentum pemulihan ekonomi Indonesia masih sangat kuat meskipun di tengah pandemi yang melanda. Hal ini juga menunjukkan Pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dengan baik. Sehingga aktivitas ekonomi masyarakat mengalami peningkatan tinggi yang merata di berbagai sektor.

Di antara beberapa faktor penyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi adalah kinerja ekspor yang terus menguat. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, ini merupakan suatu momentum yang baik. Karena berarti dunia usaha sudah mulai melakukan pemulihan dalam sisi kegiatan investasinya, dengan dukungan sektor perbankan yang mulai menyalurkan kreditnya. Dan yang paling bagus juga adalah ekspor yang masih sangat kuat.

“Kinerja ekspor kita itu sangat baik,” kata Sri Mulyani Indrawati pada laman media sosial @smindrawati.

Ia menambahkan, bahwa performa ekspor Indonesia tumbuh secara riil sebesar 21,6 persen di triwulan III-2022 (yoy). Yakni, konsisten dalam melanjutkan tren surplus dari sisi neraca perdagangan selama 29 bulan berturut-turut.

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan RI memiliki mandat khusus untuk mendorong ekspor nasional melalui pembiayaan, penjaminan, asuransi dan jasa konsultasi. Selain itu LPEI juga menjadi bagian dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Program jasa konsultasi merupakan salah satu mandat yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berorientasi ekspor, melalui program edukasi dan pendampingan. Seperti Coaching Program for New Exporter (CPNE), Marketing Handholding Program dan Desa Devisa.

Selama pandemi sejak tahun 2020 hingga saat ini, LPEI telah berhasil memberikan edukasi melalui program CPNE kepada 1.222 pelaku UMKM berorientasi ekspor. Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Makassar, Manado, Denpasar, Demak, Kendal, Bandung hingga Aceh.

Eksportir Baru

Melalui program CPNE, LPEI telah berhasil melahirkan 161 eksportir baru dari berbagai sektor usaha. Antara lain, kelapa dan turunannya, makanan dan minuman, fashion, furniture dan craft, home decor. Kemudian, kecantikan, pengolahan ikan, rempah- rempah, alas kaki. Serta komoditas pinang, ubi, dan sayuran.

Program unggulan lainnya, yaitu Desa Devisa yang merupakan program pelatihan dan pendampingan kegiatan berbasis pengembangan kepada masyarakat atau klaster. Bertujuan untuk memperbesar akses masyarakat agar mencapai kondisi sosial-ekonomi-budaya lebih baik dari sebelumnya. Serta menghasilkan devisa. Program ini terlaksana secara berkesinambungan. Sampai dengan Oktober tahun 2022, LPEI telah memiliki 149 Desa Devisa dan memberikan pelatihan kepada 13.349 orang petani dan pengrajin.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif LPEI, Riyani Tirtoso menyampaikan, mereka terus berkomitmen memberikan edukasi dan pendampingan bagi pelaku UMKM berorientasi ekspor. Hal ini dalam rangka meningkatkan ekspor nasional sebagai wujud kontribusi dalam membantu pemerintah mengakselarasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

sumber | RELIS

Advertisement

Related posts

Leave a Comment