You are here
Kenapa tak Mudah Mengajak Masyarakat Ikut Asuransi? Ekonomi & Bisnis 

Kenapa tak Mudah Mengajak Masyarakat Ikut Asuransi?

topmetro.news – Salah satu keluhan bagian pemasaran asuransi adalah, susahnya mengajak masyarakat ikut asuransi untuk menambah nasabah. Bahkan ketika BPJS belum sepopuler sekarang, mengajak masyarakat masuk asuransi, bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi ketika BPJS sudah memasyarakat, maka pekerjaan pun makin sulit.

Lalu kenapa susah mengajak masyarakat ikut asuransi? Padahal saat BPJS disosialisasikan lebih intens, masyarakat ternyata mau jadi peserta.

Penulis yang berbincang dengan seorang warga peserta BPJS mengatakan, mereka ikut program pemerintah itu karena percaya, tak akan kena tipu. Meski kadang lumayan ribet dalam pengurusan, tetapi kita lihat, bagaimana masyarakat mau antri berjam-jam di Kantor BPJS.

Ini membuktikan, bahwa masyarakat sebenarnya perduli masalah kesehatan. Demi mendapatkan pelayanan dari BPJS, mereka tidak keberatan mengikuti langkah mulai dari soal rujukan, dan lain-lain.

Mengenai biaya, ternyata juga bukan terlalu masalah. Seorang peserta BPJS yang ditanyai penulis mengaku, dia tidak keberatan bayar iuran bulanan, karena sadar apa manfaatnya. Andaipun tidak sakit saat ini, setidaknya dia mengaku lebih tenang, karena sudaha ada jaminan kesehatan.

Artinya, masyarakat membutuhkan sesuatu yang bisa dipercaya dari lembaga asuransi, lalu mereka pun akan senang ikut jadi peserta.

HARUS DIPERCAYA

Masalahnya, bagaimana membuat sebuah lembaga asuransi bisa dipercaya?

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa seringkali masalah klaim mengklaim menjadi sebuah persoalan tersendiri dalam dunia perasuransian. Bahkan kita bisa membaca di media, bagaimana seorang nasabah menggugat lembaga asuransi, karena masalah klaim ini.

Dalam benak masyarakat saat ini, seakan ada tertanam pemikiran, bahwa mengurus klaim tidak semudah iming-iming saat mereka dibujuk masuk asuransi. Meski mereka tertarik saat ditawari, namun kekhawatiran masalah klaim tersebut, bisa mengalahkan ketertarikan mereka untuk ikut asuransi.

Biasanya segala tata cara klaim sudah disampaikan para agen asuransi saat menawarkan. Namun semua bisa mentah, ketika calon peserta lebih dihantui ketakutan akan kecewa saat akan mengklaim.

Disinilah mungkin perlunya agen asuransi yang mampu membangkitkan kepercayaan itu. Sebagus apa pun program, akan sia-sia, kalau calon peserta tak bisa dibangkitkan kepercayaannya.

Selain soal kepercayaan, stateman agen untuk bisa membantu tata cara klaim, juga sangat diperlukan. Misalnya untuk menjembatani dengan pihak-pihak lain yang berhubungan dengan klaim, misalnya dokter dan lain-lain.

IMING-IMING TERLALU TINGGI

Hal lain adalah iming-iming yang ternyata tidak sama dengan kenyataan.

Untuk masalah ini juga sering kita dengar, bagaimana peserta asuransi menggerutu, karena apa yang ditawarkan agen, ternyata tidak pas dengan yang mereka terima.

Bisa jadi karena ingin mendapatkan nasabah, agen asuransi pun memberi iming-iming, yang sebenarnya tidak ada dalam program mereka. Inilah yang kemudian membuat peserta kecewa dan menceritakan ini ke publik dan mempengaruhi ketertarikan masyarakat.

Sungguh bijak, apabila lembaga asuransi mengarahkan para agennya untuk bersikap jujur di lapangan. Alangkah baiknya lembaga asuransi mensosialisasikan program atau kelebihan yang sudah pasti akan didapatkan peserta, namun sekaligus mengusahakan kelebihan-kelebihan lain.

Artinya, lembaga itu mengaku nilai 7, tapi pada prakteknya nilai 8, akan lebih dihargai dari pada mengaku bernilai 9, tetapi hasilnya 8. Walau hasilnya sama-sama delapan, dipastikan apresiasi akan berbeda.

MASALAH LAIN DALAM UPAYA MENGAJAK MASYARAKAT IKUT ASURANSI

Selain hal di atas, penulis juga merangkum beberapa faktor lain, seperti masalah pelayanan, misalnya soal rujukan rumah sakit atau dokter untuk asuransi kesehatan.

Ini kadang menjadi masalah, ketika rumah sakit atau dokter yang ditunjuk tidak sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian. Ada baiknya lembaga asuransi menjadikan pertimbangan ini untuk menarik minat calon peserta.

Selain itu, ketidakpahaman masyarakat secara mendalam soal asuransi, menjadi tantangan juga bagi para agen asuransi. Belum lagi anggapan bahwa asuransi itu adalah produk mewah.

Asuransi memang belum terlalu populer bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, masih banyak istilah-istilah dalam asuransi yang belum dimengerti dengan baik oleh masyarakat. Inilah membuat masyarakat masih banyak ragu dan memutuskan untuk tidak memiliki asuransi.

Itu sebabnya, istilah-istilah asuransi yang terkesan berbahasa tinggi, sebaiknya disederhanakan, sehingga mudah dicerna dan diingat. Juga membuat kesan mahal menjadi hilang, berganti dengan kedekatan, karena istilah yang dipakai misalnya dari bahasa sehari-hari.

POLA PIKIR MASYARAKAT

Saat ini perkembangan pola pikir masyarakat sudah semakin berkembang. Kalau sebelumnya menganggap asuransi bukan kebutuhan penting, saat ini sepertinya sudah mulai bergeser. Ini bisa jadi karena faktor BPJS yang makin memasyarakat.

Namun apa pun alasannya, perkembangan pola pikir tadi harus bisa dimaksimalkan oleh lembaga asuransi melalui para agen. Tentunya selain soal kepercayaan, pelayanan, dan janji yang realistis, maka pengembangan program juga menjadi penting.

Misalnya, apakah hanya soal perawatan apabila sakit untuk kesehatan, atau apa saja yang bisa membuat rasa aman pemilik kendaraan, dan lainnya, menjadi perlu dikembangkan.

Saya ada contoh sebuah asuransi kendaraan roda dua, yang mengatakan, hanya menanggung kerusakan minimal 80 persen baru ada penggantian. Di bawah itu tidak ditanggung.

Itu artinya kondisi sepeda motor sudah dalam keadaan roda ketemu roda. Apakah batasan seperti itu masih diperlukan? Lalu apakah bisa berhasil mengajak masyarakat ikut asuransi dengan syarat itu? Apakah konsumen merasa nyaman dengan itu? Tentunya semua harus jadi pemikiran lembaga asuransi. (TM-ART)

184 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment