Dayat, Pedagang Mie Balap: Sering Diperas Preman, Sekarang …

sering diperas preman
Advertisement

Topmetro.news – Sering diperas preman, tapi itu dulu. Sekarang sudah lebih aman. Aksi oknum preman yang merajalela itu terasa sekitar tahun 2014, tapi syukur alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Terimakasih untuk polisi dan pemerintah yang sudah membasmi preman sehingga berusaha kini sudah lebih nyaman.

Begitu kata Dayat, seorang pedagang mie balap di bilangan Pasar Sukarame Medan saat berbincang-bincang dengan Topmetro.News, Kamis (15/3/2018).

Prospektif dunia usaha memang selalu terancam manakala faktor premanisme masih menjadi kendala utama. Premanisme yang biasanya dilakukan oknum-oknum melalui aksi pengutipan liar seperti itu sering dialami kalangan pengusaha. Tak terkecuali dengan pedagang seperti Dayat. Pria yang sudah 8 tahun berkecimpung di dunia kuliner mie balap ini sempat mengenang masa sulit ketika premanisme belum dikikis.

”Tahun 2014 masih ada tapi sekarang alhamdulillah sudah aman. Kalau dulu, preman itu minta sarapan tiap hari. Padahal untung tak seberapa. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi, polisi, pemerintah membasmi premanisme. Dengan begini kita nyaman berusaha,” ujar warga Pasar 1 Tembung-Deliserdang itu.

Kerjasama yang Baik

Dalam kegiatannya, sehari-hari memang Dayat berusaha sendirian dengan kegiatan mie balap itu. Dia tidak ditemani siapa pun. Termasuk istrinya, Maharani. Menurut Dayat, dirinya bersama istri sejauh ini sudah kerjasama. ”Kalau istri, tugasnya berbelanja bumbu di pasar. Habis belanja menyiapkan bumbu untuk bahan (baku) mie balap. Jadi istri di rumah,” kata ayah 2 orang anak itu.

Diakui pria kelahiran 6 Oktober 1975 itu pula, usaha mie balap yang digelutinya itu digelar di dua tempat. Pertama, antara pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB Dayat menggelar dagangannya di sekitar Pasar Sukarame. Kedua, Dayat buka lapak di kawasan Amaliun antara jam 15.00 Wib hingga 22.00 WIB. ”Sampai di rumah biasanya jam 11 malam,” kata Dayat.

Dengan gerobak yang menempel di sepedamotornya, membuat Dayat tidak begitu sulit berpindah-pindah. Jika tutup, Dayat praktis hanya menggulung peralatan masak dan tenda selanjutnya memasukkannya dalam gerobaknya.

Semua Tersedia

Untuk memenuhi keinginan pelanggannya, Dayat sengaja menyediakan semua menu. seperti mie balap telur, udang hingga mie balap sea food. Untuk seporsi mie balap telur, Dayat menghargainya Rp8.000 sementara mie balap sea food, pria ini menjualnya dengan harga Rp 15.000 per porsi. Tingginya konsumsi masyarakat terhadap mie balap, membuat pedagang kecil seperti Dayat bisa lebih survive (bertahan hidup).

Laba Bersih

Anda berapa terima keuntungan per hari? Ditanya begitu, Dayat mengaku mendapat keuntungan bersih sekitar Rp100.000 hingga Rp 150.000 per hari. Namun dia tidak merinci pendapatan yang diterima itu diperoleh di satu tempat atau dari dua tempat (Sukarame dan Amaliun).

Dia berharap pemerintah menjaga stabilitas harga pangan terutama tepung dan telur sebagai bahan baku mie balap yang dijualnya itu. (***)

Advertisement
Advertisement

Related posts

Leave a Comment