You are here
Mengapa Sangat Sulit Mengevakuasi Korban di Danau Toba Tekno 

Mengapa Sangat Sulit Mengevakuasi Korban di Danau Toba

topmetro.news – Pihak berwenang sudah memutuskan untuk menghentikan upaya evakuasi KM Sinar Bangun dan juga jenazah para korban yang tenggelam di Danau Toba. Banyak pro dan kontra seputar keputusan ini.

Keluarga korban disebut sudah menerima kondisi ini. Sementara ada beberapa pihak, termasuk beberapa LSM yang mengklaim, mereka ada dihubungi keluarga korban, yang katanya masih berharap ada evakuasi KM Sinar Bangun.

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan juga sudah menyebut, bahwa upaya evakuasi KM Sinar Bangun memang nyaris tidak mungkin dilakukan. Faktor utama penyebabnya adalah kedalaman posisi KM Sinar Bangun yang mencapai 450 meter di bawah permukan danau.

Sekaitan dengan ini, para ahli maritim pun ikut menyumbang pemikiran. Salah satunya yang menjelaskan, mengapa sangat sulit mengevakuasi korban di Danau Toba. Berikut adalah uraiannya:

Penyebab Pertama: Kedalaman 450 Meter

Opsi Satu: Memakai ROV:

Untuk mencapai kedalaman ini, alat yang paling memungkinkan adalah ROV (Remoted Operated Vehicle). ROV sendiri ada beberapa tipe, Observation Class, Semi-Work Class, dan Work Class. Umumnya ROV ini memiliki lengan yang dinamakan manipulator. Ini berguna untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di bawah air.

Untuk melakukan pekerjaan-perkerjaan bawah air biasanya memakai Semi-Work Class atau Work Class ROV. Kedua type ROV ini pun tidak serta-merta bisa dipakai untuk evakuasi korban. Pergerakan lengannya pun sangat terbatas, beda dengan gerakan tangan manusia. Sedangkan evakuasi membutuhkan manuver yang kompleks.

Dan karena ukurannya yang besar, akan sangat sulit (kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin) untuk sampai masuk ke dalam KM Sinar Bangun yang kecil. Belum lagi semburan ‘thruster’ ROV yang bisa mengubah keseimbangan kapal karam. Untuk manuver di dalam ‘platform offshore’ ukuran tertentu saja, Work Class ROV sudah tidak recommended.

Kabarnya ROV dipakai kemarin (yang sudah kecil) itu, sempat ‘stuck’ di bawah dan belum bisa direcover. Padahal pilot operatornya dikenal sangat ahli.

Opsi Dua: Saturated Diving:

Ini lebih sulit lagi. Pilihan ‘diving’ (menyelam) yang tersedia adalah ‘Saturated Diving’. Ini adalah tipe penyelaman kerja dengan memakai habitat bertekanan dengan gas campuran, untuk kedalaman lebih dalam daripada ‘air-dive’ (> 30 meter).

Jadi untuk kedalaman 450 meter, penyelam harus dibiasakan dulu untuk hidup di tekanan 45 bar atau sekitar 650 Psi. Sekedar informasi, tekanan ban mobil itu biasanya berada di range 30-32 psi. Jadi tekanan yang harus dialami oleh diver sekitar 20 kali tekanan ban! Dan mereka harus hidup 24 jam selama operasi dengan tekanan ini! Penyesuaian untuk sampai ke enam bar saja, itu bisa mencapai 2-3 hari. Nah kalau ke 45 bar…, wallahu ‘alam.

Dalam sejarahnya pun, ‘saturated diving’ yang pernah tecatat hanya sampai 320 meter. Sedangkan untuk penelitian sampai 500 metr (one time only). Umumnya pekerjaan ‘saturated diving’ di oil dan gas rata-rata hanya sampai 60 meter. Di atas 100 meter, atas dasar ‘safety’, pekerjaan biasanya dilakukan ROV.

Sangat Beresiko

‘Saturated Diving’ sendiri adalah pekerjaan sangat beresiko.Bukan hanya ketika menyelam, tetapi 24 jam sepanjang waktu pekerjaan. Karena para penyelam harus hidup di habitat dengan tekanan yang sama dengan tekanan terdalam nantinya. Ada kebocoran sedikit saja bisa mengakibatkan pecahnya semua jeroan sang penyelam (bayangkan saja tekanan 20 kali ban pecah).

Dalam sebuah pekerjaan ada pernah penyelam sakit dan harus dibawa ke dokter. Tapi karena dia berada di habitat bertekanan, butuh tiga hari menunggu penyesuaian tekanan sampai dia bisa dievakuasi. Orangnya sudah muntah-muntah terus di ruangan yang sangat kecil. Dia hanya bisa diamati dari kaca sambil memberikan arahan.

Memasang instalasi saturated diving (yang sangat besar) di kapal yang tidak didesain untuk pekerjaan tersebut, sangat beresiko.

Penyebab Kedua: Lokasi

Yang menyulitkan evakuasi KM Sinar Bangun adalah karena lokasinya di Danau Toba. Baik opsi Semiwork Class/Work Class ROV dan opsi Saturated Diving, semuanya itu membutuhkan kapal besar (mulai dari 1700 DWT). Berbeda dengan Observation Class ROV yang kemarin dipakai itu, tidak membutuhkan deck yang luas dan crane besar.

Sangat tidak diyakini ada kapal ukuran dengan deck yang cukup luas dan kokoh untuk menampung semua peralatan yang dibutuhkan (sampai 6-10 kontainer) dan tersedia di Danau Toba. Apalagi untuk mengangkat itu semua, juga membutuhkan crane kapasitas besar yang juga umumnya hanya berada di pelabuhan-pelabuhan besar.

Pun ketika kapal tersebut bisa didatangkan, kemudian semua alat bisa dipasang, kembali ke pokok masalah, 450 meter adalah kedalaman yang bisa dikatakan mustahil untuk melakukan evakuasi, seperti dijelaskan di atas.

Beda Kondisi

Jadi kondisi yang ada di Danau Toba itu sangat berbeda dengan beberapa kejadian lain. Misalnya peristiwa pesawat Air Asia (laut lepas, kedalaman 30 meter, evakuasi dilakukan). Yang di Danau Toba dan lebih mirip dengan kejadian Adam Air (laut lepas, kedalaman 2.000 meter) yang tidak dilakukan evakuasi korban, meskipun kedalaman 2.000 meter masih masuk range kedalaman kerja dari ROV Work Class.

Kemarin, kondisi kapal dan korban sudah ketahuan. Tidak adalagi kegiatan evakuasi KM Sinar Bangun yang akan bisa menyelamatkan nyawa. Pilihan yang terpapar memang bisa dibilang tidak memungkinkan. (TM-ART)

berbagai sumber

475 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment