You are here
Malu Pakai BBM Subsidi, Anggaran Selamat, Rakyat Sejahtera Ekonomi & Bisnis Otomotif 

Malu Pakai BBM Subsidi, Anggaran Selamat, Rakyat Sejahtera

Topmetro.News – Si Nunik, istri pak Camat di salah satu Kecamatan di Simalungun (Sumatera Utara) kemarin terlihat membeli elpiji 3 Kg di sebuah warung yang tak jauh dari rumahnya. Tanpa malu-malu, istri pak Camat itu menukarkan tabung gas kosong menjadi tabung gas berisi sembari membayar Rp28.500. Padahal pekan lalu, wanita itupun terlihat mengisi bahan bakar jenis Premium di wilayah itu.

Malu Pakai BBM Subsidi2
foto | topmetro.news-pandapotan silalahi

Pakai BBM Subsidi, Dinikmati Orang Kaya

Ilustrasi ini menggambarkan hingga kini masih banyak masyarakat yang ‘doyan’ menggunakan produk subsidi pemerintah. Padahal sudah jelas-jelas semua produk subsidi itu diperuntukkan bagi kaum IR (masyarakat yang berpenghasilan rendah) alias keluarga tak mampu atau pra sejahtera. Tapi secara kasat mata, dimana-mana terlihat kaum keluarga mampu selalu menggunakan produk subsidi itu. Sejatinya mereka harus malu pakai BBM subsidi!

Malu pakai BBM subsidi? Sepantasnya hal ini perlu sosialisasikan lagi. Ya, soalnya, subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah bagi keluarga pra sejahtera justru masih banyak dinikmati para ‘orang kaya’ di negeri ini.

Lewat produsen maupun distributor mobil, sebenarnya upaya penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi ini sudah diwanti-wanti. Untuk mobil yang beredar di jalanan diharap menggunakan bahan bakar Pertamax, atau minimal Pertalite. Bukan justru Premium! Karena jika sering menggunakan Premium bisa berakibat terhadap mesin yang bakal mudah rusak. Selain itu pula, penggunaan Premium bakal memproduksi gas karbon dioksida yang melebihi standar. Tentu hal ini bisa mengotori udara dan menyumbang polusi yang memengaruhi kesehatan manusia.

BBM Subsidi untuk Pra Sejahtera

Hal seperti itu jugalah yang diharapkan kepada masyarakat umum. Intinya, gas elpiji ukuran 3 Kg itu sejatinya diperuntukkan bagi keluarga pra sejahtera, tapi sekali lagi, mengapa masih dinikmati orang-orang kaya?

Sekadar diketahui, akibat besarnya subsidi yang digelontorkan pemerintah, tahun 2018 lalu, postur APBN untuk subsidi BBM dan elpiji itu mencapai Rp 54,3 triliun. Anggaran sebesar itu tersedot habis hingga September tahun lalu.

Nah, untuk tahun 2019 ini pemerintah menyiapkan subsidi energi yang lebih besar lagi yakni sebesar Rp 157,7 triliun dengan subsidi BBM dan LPG Rp 100,68 triliun, sisanya subsidi listrik Rp 57,1 triliun.

Mestinya, jika masyarakat kita tertib terkait penggunaan konsumsi bahan bakar ini, pemerintah tak perlu menggelontorkan biaya sebesar itu. Dengan begitu, pemerintah dapat mengalokasikan subsidi BBM itu ke sektor lain yang dianggap lebih membutuhkan, untuk kesejahteraan rakyat. Katakanlah subsidi itu bisa ‘dilego’ ke sektor infrastruktur, kesehatan, petani dan nelayan atau pembangunan sektor lainnya.

Jangan Lagi Pakai Premium

Sejak awal sebenarnya pemerintah sudah ‘berkoar-koar’ agar masyarakat menghindari pemakaian Premium untuk bahan bakar mobilnya. Selain itu pula, sudah ada pemberitahuan standar oktan BBM yang harus digunakan. Sialnya, hingga kini masih banyak pemilik menggunakan bahan bakar jenis Premium itu. Lebih gilanya lagi, ada malah yang justru rela antre panjang di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Kalau ditanya, alasannya pasti klise, yakni untuk mengurangi biaya pengeluaran atau efisiensi.

Padahal menggunakan BBM jenis Premium bakal menimbulkan kerugian. Masih tak percaya?

Belum lama ini, penulis berbincang dengan seorang teknisi yang menjabat sebagai Kepala Bengkel Auto2000 Amplas. Dia membenarkan penggunaan bensin untuk kendaraan kita bakal menimbulkan kerusakan di bagian mesin. Jika mesin rusak, tanpa disadari, kita harus mengeluarkan biaya tambahan yang tak sedikit.

“Orang-orang selalu menghitung pengeluaran BBM saat dia membayar bensin (Premium). Intinya, mereka masih menganggap kalau sekelas Premium atau di bawah rekomendasi itu murah. Padahal nyatanya kalau dihitung-hitung malahan justru makin mahal,” katanya.

Dia sempat memberi analogi yang cukup masuk akal. Menurutnya, ketika mobil diberi Premium maka mesin bakal menerima dampak boros. Selain itu, kerugian lain, Premium mengakibatkan mobil kurang tenaga, tidak seperti penggunaan Pertamax atau Pertalite.

Teknisi ini menjelaskan, penggunaan Premium bisa menimbulkan kerak-kerak pada mesin. Jika ini terjadi, untuk memperbaikinya pemilik harus menyiapkan biaya yang tak sedikit. Kisarannya, jutaan rupiah!

Mahalnya biaya membersihkan kerak-kerak dimaksud lantaran mekanik bengkel wajib membongkar kepala silinder mesin hingga dibersihkan katup-katup mesin itu.

Tak Perlu Razia, Tegakkan Budaya Malu

Melihat besarnya subsidi yang digelontorkan pemerintah dan habis tersedot setiap tahun, sudah saatnya kita membantu pemerintah. Dengan menghindari pemakaian produk subsidi (BBM dan Elpiji), kita sudah cukup membantu.

Harapannya, tak ada lagi si Nunik lainnya yang masih menggunakan gas ukuran 3 Kg. Tak ada lagi istri pak Camat yang mengisi Premium di SPBU. Karena memang produk subsidi ini khusus diperuntukkan bagi keluarga pra sejahtera. Tak perlu rasanya untuk menggelar razia, menangkap orang kaya yang beli gas 3 Kg. Karena kita masih punya budaya malu, ya malu pakai BBM subsidi. Semoga! (Pandapotan Silalahi, adalah wartawan Topmetro.News. Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis ‘Anugerah Jurnalistik Pertamina 2019’ untuk kategori Media Online/Siber)

418 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment