You are here
Demokrat Optimistis Poros Ketiga, Ekonom Jagokan Airlangga Nasional 

Demokrat Optimistis Poros Ketiga, Ekonom Jagokan Airlangga

topmetro.news – Sekjen DPP Partai Demokrat Hinca Panjaitan, mengatakan, pihaknya masih tetap optimis poros ketiga yang digawangi PAN dan PKB akan terbentuk.

“Ya masih (optimistis terbentuk) karena dialog kami dengan PAN kemarin masih seperti itu. Kalau makin banyak pilihannya makin bagus lah,” ujar Hinca di Gedung DPR RI.

Ada pun komunikasi di level sekjen ketiga partai tersebut sudah berjalan pada 9 Maret 2018 lalu. Dalam beberapa waktu terakhir, Hinca juga mengaku terus berkomunikasi. “Kami terus berkomunikasi untuk melakukan dialog dengan ketiga partai itu. Ini soal waktu saja,” katanya.

Hinca mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya juga berencana untuk melakukan pertemuan kembali dan terus berkomunikasi. Terlebih, saat ini beberapa tokoh sentral seperti SBY tengah berada di Jawa Barat. Kemudian, Zulkifli Hasan sedang ke Jawa Timur, dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, tengah menjalankan ibadah umrah.

“Sehingga, menunggu waktu untuk pertemuan lagi dan kita komunikasi terus,” katanya.

Kemungkinan PAN ke Jokowi

Sementara itu, Wasekjen PKB Daniel Johan mengatakan, pihaknya menanggapi positif kemungkinan PAN yang mempertimbangkan bergabung ke Jokowi sebagai incumbent. Jika hal itu benar, maka merupakan sebuah kejutan mengingat selama ini Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, selalu bersikap kritis terhadap pemerintahan Jokowi.

“Tapi kita sambut baik kok, ke koalisi mana pun adalah baik, agar rakyat ada pilihan, dan rakyat yang akan menentukan yang terbaik nantinya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, menyampaikan, jika terbentuknya poros ketiga butuh keajaiban. Terlebih, Zulkifli sempat mengatakan, posisi Joko Widodo sebagai incumbent menjadi pertimbangan pihaknya untuk berlabuh ke koalisi siapa.

Ekonom Sebut Airlangga Layak

Sementara itu, Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal, menilai, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, layak menjadi calon wakil presiden (cawapres). Kelayakan tersebut, dilihat dari aspek penguasaan konsep dan teknis industri manufaktur yang selama ini jarang mendapat perhatian.

“Seandainya ada yang orang yang paham tentang industri manufaktur seperti Pak Airlangga, yang bisa mendamping Pak Jokowi. Dirinya bisa memberikan masukan untuk memprioritaskan industri manufaktur,” ujar Faisal saat acara diskusi bertajuk “Capres-Cawapres Ideal di Mata Ekonom” di Mencure Hotel, Hayam Huruk, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Faisal menilai, Airlangga mempunyai kapasitas dan kemampuan teknis di bidang industri manufaktur. Kinerja Airlangga di Kementerian Perindustrian (Kemperin) RI sangat bagus dibandingkan menteri sebelumnya.

“Namun, Airlangga membutuhkan level yang lebih tinggi untuk mengawal pembangunan industri manufaktur di Indonesia. Misalnya, posisi wapres untuk mengawal agenda reindustrialisasi yang menjadi acuan menteri di bawahnya,” ungkapnya.

Sektor Industri Prioritas

Menurut Faisal, jika Airlangga menjadi Cawapres Jokowi, sektor industri akan menjadi prioritas pembangunan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Indonesia, perlu belajar dari Afrika Selatan (Afsel) yang mampu membuat industrinya berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Dari sisi capaian lain adalah tax ratio, kepatuhan membayar pajak, karena ada terobosan, mereka betul-betul melayani dengan semudah-semudahnya bagi yang mau membayar,” tuturnya.

Faisal sendiri tidak menyebut Sri Mulyani sebagai Cawapres Jokowi, karena dasar pijakannya adalah industri manufaktur. Sementara, kata dia, Sri Mulyani konsentrasi dan spesialisasinya di sektor keuangan.

“Jarang sekali Sri Mulyani sentuh masalah manufaktur. Ini kuncinya. Itu mengapa saya lebih condong ke Airlangga yang mau membantu Pak Jokowi ke depan untuk jadikan industri manufaktur sebagai prioritas,” terangnya.

Menurut Faisal, capres dan cawapres ke depan tidak boleh hanya menguasai dua bidang saja, yakni politik dan ekonomi. Mereka harus menguasai semua bidang dan bisa merangkul semua elemen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia.

“Jadi, tidak perlu memaksakan seorang ekonom (jadi cawapres), tetapi harus punya multifungsi, representasi tokoh agama dan militer, Namun punya pemahaman ekonomi yang lebih baik dari presidennya,” kata dia. (TM-RED)

sumber: beritasatu.com

166 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment