You are here
Nama dan Logo Kampus tak Boleh Dipakai Berpolitik Politik 

Nama dan Logo Kampus tak Boleh Dipakai Berpolitik

topmetro.news – Pengamat sosial politik dari Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral Adian menyayangkan nama dan logo Kampus UI (Universitas Indonesia) dipakai untuk kepentingan politik. Menurut Donny, kampus termasuk nama dan logonya, seharusnya netral dari kepentingan politik.

Hal ini disampaikan Donny menyikapi ada komunitas yang mengatasnamakan UI mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. “Nama kampus tidak boleh dibawa-bawa demi kepentingan politik. Kampus harus netral,” ujar Donny di Bakoel coffi, Cikini, Menteng, Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Donny berharap Rektor UI bersikap atas penggunaan nama dan logo kampus untuk kepentingan politik tersebut. Pasalnya jika dibiarkan, akan ada pembenaran bahwa Universitas Indonesia terlibat dalam politik praktis.

“Kan sudah ditegaskan bahwa nama dan logo kampus hanya digunakan untuk kepentingan UI sesuai dengan visi dan misinya. Serta harus mendapat izin tertulis dari Rektor UI dan dosen terkait. Dalam konteks ini, Rektor UI perlu bersikap dan mengeluarkan pernyataan bahwa deklarasi tersebut tidak ada kaitannya dengan UI,” terang dia.

BACA JUGA: Elektabilitas di Sumatera Naik, Ma’ruf Yakin Dapat Dukungan Kader PBB

Kampus UI Harus Netral

Menurut Donny, anggota Komunitas UI boleh-boleh saja menjadi relawan atau tim sukses salah satu pasangan capres-cawapres di Pemilu 2019. Yang terpenting, mereka tidak membawa nama dan logo Kampus UI. “Kalau mau jadi relawan atau timses, ya silakan. Tetapi harus lepas baju dan jaket UI-nya,” tandas dia.

Lebih lanjut, Donny menilai penggunaan nama dan logo bisa menjadi preseden buruk bagi dunia perguruan tinggi. Ketika pihak kampus diam, maka seolah-olah ada pembenaran bahwa kampus bisa berpolitik. Dan ini akan mengakibatkan dampak tak baik.

BACA JUGA: Puluhan Ribu Massa Akan Hadiri Deklarasi GBB Dukung Jokowi-Maruf

“Bisa juga terjadi kisruh di internal kampus gara-gara dukungan politik yang berbeda dan itu sangat berbahaya bagi dunia pendidikan. Nanti, kalau paslon A yang menang maka dosen yang dukung dia akan diperlakukan secara istimewa. Begitupun sebaliknya. Tentu hal ini tidak baik,” pungkas dia. (TMN)

sumber: beritasatu.com

77 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment