You are here
Seluruh Kantong Jenazah Diperiksa, ini Temuan KNNT Soal Kecelakaan Lion Air Nasional 

Seluruh Kantong Jenazah Diperiksa, ini Temuan KNNT Soal Kecelakaan Lion Air

topmetro.news – Tim DVI RS Sakit Bhayangkara Tingkat I Raden Said Sukanto, terakhir menerima 195 kantong jenazah penumpang Lion Air JT-610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat. Seluruh kantong jenazah berisi bagian tubuh atau ‘body part’ itu telah diperiksa dan diambil sampel DNA-nya.

“Data postmortem kantong jenazah yang kami terima ada 195. Sejak kemarin (Minggu 11 November 2018), kami tidak menerima lagi kantong jenazah dari TKP (tempat kejadian perkara),” ujar

Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Lisda Cancer, di RS Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (12/11/2018).

Diketahui, RS Bhayangkara Polri Raden Said Sukanto, tidak memerima lagi kantong jenazah karena Basarnas telah resmi menghentikan pencarian penumpang dan bagian pesawat, sejak Sabtu (10/11/2018).

“Dari 195 kantong jenazah itu sudah kami lakukan pemeriksaan semuanya. Sudah kami ambil sampel DNA. Jadi saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan DNA. Masih dalam proses,” ungkapnya.

Lisda menambahkan, dari 195 kantong jenazah itu, Tim DVI RS Bhayangkara Polri telah mengambil 666 sampel DNA. Ia menyampaikan, sampai saat ini data antemortem yang telah diterima ada 256, terdiri dari data antemortem yang diterima RS Bhayangkara Polri sebanyak 213 dan data antemortem yang dikumpulkan Biddokkes Polda Babel sebanyak 43.

“Dari 256 jumlah ante mortem yang terverifikasi adalah 189,” tandasnya.

Temuan Awal KNKT

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memutuskan tetap mencari black box cockpit voice recorder (CVR) sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sebab, penemuan alat ini sangat penting untuk membantu mengungkap penyebab kecelakaan.

“Tim KNKT akan tetap melanjutkan pencarian black box CVR. Salah satunya dengan mendatangkan kapal yang dilengkapi penyedot pasir yang didatangkan dari Balikpapan,” kata Wakil Ketua KNKT Haryo Satmiko, di Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Sementara hasil identifikasi terhadap bagian pesawat dan juga data-data di ‘black box flight data recorder’ (FDR), Tim KNKT hingga hari ke-13, telah berhasil mengumulkan sejumlah data awal sebagai petunjuk penyebab kecelakaan.

BACA JUGA: Tim Psikologi Dampingi Keluarga Penumpang Lion Air

Berikut, empat temuan penting terkait kecelakaan pesawat Lion Air JT-610:

1. Pesawat Pecah di Air

Dari temuan puing-puing pesawat dan kesaksian warga sekitar perairan Kawarang, KNKT menyimpulkan pesawat Lion Air JT-610 tidak pecah di udara. Melainkan pecah akibat tekanan yang sangat besar saat menyentuh air laut.

Hasil identifikasi terhadap mesin pesawat, KNKT menyebut kondisi mesin saat menyentuh air laut masih dalam keadaan hidup dengan putaran mesin tinggi. Ini ditandai dengan hilangnya semua sudut, turbin, maupun kompresor layaknya bonggol jagung.

2. Airspeed Indicator Rusak

Berdasarkan analisa ‘black box flight data recorder’ (FDR), ada kerusakan pesawat pada bagian penunjuk kecepatan atau ‘airspeed indicator’ di empat penerbangan terakhir. Termasuk penerbangan saat terjadinya kecelaakaan.

Kasubkom Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo menyebut instrumen ini merupakan bagian sangat penting. Tanpa ada kecepatan yang tepat, pesawat tidak akan bisa terbang dengan sempurna.

3. Angle of Attack (AOA) Sensor Rusak

Setelah dilakukan penelusuran yang lebih mendalam, rusaknya ‘airspeed indicator’ di pesawat Lion Air JT-610 ada berkaitan dengan fungsi AOA sensor yang juga rusak.

AOA sensor tersebut sebetulnya sudah diganti saat pesawat berada di Bali. Namun, pada penerbangan dari Bali ke Jakarta atau sebelum terjadinya kecelakaan, tercatat ada perbedaan AOA indicator antara yang ada di sisi kiri atau tempat pilot dan di sisi kanan tempat co-pilot. Di mana AOA sebelah kiri berbeda 20 derajat dibanding yang kanan.

AOA adalah indicator penunjuk sikap pesawat terhadap arah aliran udara. Bila AOA indikatornya salah, maka penunjuk kecepataan di airspeed indicator akan menampilkan data keliru, sehingga bisa memengaruhi penerbangan.

4. Penerbangan dari Denpasar Mengalami Masalah Sama

Dari hasil analisa KNKT terhadap data black box FDR, permasalahan saat Lion Air JT-610 mengalami kecelakaan, sama dengan yang dihadapi saat penerbangan dari Denpasar ke Jakarta.

Namun, pilot penerbangan dari Denpasar melakukan beberapa prosedur. Akhirnya dapat mengatasi masalah hingga pesawat berhasil mendarat di Jakarta. Apakah pilot pesawat Lion Air yang mengalami kecelakaan sudah mengetahui prosedur yang harus dilakukan seperti pilot terdahulu? Hal ini masih terus didalami KNKT. (TMN)

203 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment