You are here
Giliran Elfrida Silitonga Korban Penipuan Rp2 M Berkedok Bisnis CPO Dihadirkan Kota Medan 

Giliran Elfrida Silitonga Korban Penipuan Rp2 M Berkedok Bisnis CPO Dihadirkan

topmetro.news – Giliran Eldrida Megawati Silitonga, korban penipuan berkedok bisnis Crude Palm Oil (CPO) Rp2 miliar dihadirkan tim JPU dari Kejari Medan dalam sidang lanjutan, Selasa (12/2/2019) di PN Medan.

Menjawab pertanyaan majelis hakim diketuai Aimafni Arli SH MH, korban tergiur dengan pengalaman kerabatnya bernama Satria. Satria yang menanamkan investasi Rp1 miliar kepada terdakwa Paimin alias Amin (42) Warga Sunggal Perumahan Somerset Blok C-18 Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, bisa meraih keuntungan 7 persen dari total investasi yakni Rp70 juta per bulan.

Dalam menjalankan bisnis sawit curah mentah (CPO) tersebut, terdakwa menggunakan CV Anugerah Jaya Perkasa milik terdakwa Paiman. Ketika itu pembagian keuntungan terhadap rekannya Rp70 juta setiap bulannya dari terdakwa lancar-lancar saja..

Setelah diperkenalkan dengan terdakwa Paiman, tahap pertama, saksi korban Elfrida Agustus 2017 menginvestasikan modal Rp1 miliar. Dengan rincian Rp970 juta ke rekening terdakwa Paiman via Bank Mandiri. Sedangkan uang cash Rp30 juta dititip melalui saksi Satria.

Namun bedanya keuntungan yang didapat korban sebesar 5 persen dari nilai investasi yakni Rp50 juta per bulannya.

Iming-iming tak Merugi

Selanjutnya di Bulan November 2017 uang kontan sebesar Rp1 miliar melalui Satria dengan komitmen sama. Yakni tidak ada istilah kalau bisnis terdakwa merugi. Dengan demikian Eldrida akan menerima pembagian keuntungan sebesar 5 persen dari total investasi Rp2 miliar yakni Rp100 juta per bulan.

Sedangkan pembagian keuntungan sebesar 2 persen merupakan komisi 2 persen dari total investasi (Rp2 miliar) diberikan kepada saksi Satria.

Di awal kerjasama dengan terdakwa Paiman melalui Saksi satria, aku saksi yang dihadirkan KPU Jacky Situmorang SH itu mengakui, lancar-lancar saja.

Sementara menjawab pertanyaan majelis hakim, saksi Elfrida membenarkan bahwa terdakwa pernah menawarkan barang tidak bergerak seperti rumah untuk jaminan pembayaran uang pokok Rp1 miliar tersebut.

“Benar yang mulia. Terdakwa pernah menawarkan rumahnya untuk jaminan. Namun, surat rumahnya pun sudah diagunkan ke bank,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Ketua Majelis Hakim Aimafni Arli mempertanyakan pembagian keuntungan yang diperoleh saksi korban sangat besar. Sebab bank saja hanya 5 persen untuk per tahun. Soal ini, saksi tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menunda persidangan pekan depan. Agendanya mendengar keterangan terdakwa dan menghadirkan saksi dari terdakwa.

reporter: Robert Siregar

518 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment