You are here
Cendol, Hidangan Klasik Yang Berusia Hampir 10 Abad Life style 

Cendol, Hidangan Klasik Yang Berusia Hampir 10 Abad

topmetro.news – Di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini, kita pasti suka dengan yang namanya ‘jajanan’. Kalau kita lagi jalan ke mall, sangat banyak jajanan kekinian yang bisa dibeli. Mulai dari makanan berat sampe minuman.

Pasti kalian pernah lah ya minum-minuman kayak Oreo Milk Shake, Bubble Tea, ataupun Teh Pochi. Jauh sebelum minuman-minuman ini ada, cendol sudah terlebih dahulu muncul dan menjadi primadona masyarakat.

Cendol sendiri adalah hidangan berupa minuman yang mungkin usianya sudah hampir 10 abad. Minuman ini dapat kita nikmati di semua kawasan Asia Tenggara.

Minuman ini terbuat dari tepung beras. Dibentuk memanjang kemudian ditambahkan daun pandan dan suji untuk memberikan warna hijau serta wangi yang khas. Saat kamu meminumnya, akan terasa manis dari gula aren dan juga sedikit gurih dari santan.

Biasanya minuman ini disajikan dengan tambahan es batu agar menambah tingkat kesegarannya.

Cendol Sejak Kerajaan Majapahit

Salah satu yang meneliti tentang asal usul cendol adalah Murdijati Gardjito. Dia mengatakan bahwa cendol sudah ada sejak tahun 1323. Yakni masa Kerajaan Majapahit.

Karena kerajaan Majapahit adalah yang terbesar di Indonesia, tentu mereka pernah melakukan ekspansi hingga ke luar negeri. Akhirnya tersebar lah cendol ke berbagai wilayah di Asia tenggara.

Di daerah Jawa sendiri, cendol lebih akrab disebut dengan nama ‘dawet’. Banyak tradisi Jawa yang menggunakan hidangan ini dalam acara penting. Seperti saat acara pernikahan maupun kelahiran. Cendol dianggap membawa banyak rezeki, serta mampu melancarkan proses persalinan.

BACA | Jokowi Bikin Heboh Lagi, Ngopi Cuma Rp 4.000 per Gelas

Di negara lain, cendol merupakan topping tambahan untuk jenis es campur. Sedangkan di Indonesia cendol merupakan bahan utama yang dapat berdiri sendiri. Yang menjadi perbedaan mendasar adalah, di luar negeri hidangan ini selalu disajikan dengan tambahan kacang merah, sedangkan di Indonesia tidak.

sumber | kaktus

302 kali dibaca

Berita Lainnya

Leave a Comment